Moneter.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan
bahwa realisasi defisit anggaran pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir
Januari 2019 mencapai Rp45,8 triliun atau 0,28% terhadap produk domestik bruto (PDB),
lebih tinggi dibanding defisit fiskal periode sama di 2018 yang sebesar Rp37,7
triliun.
“Defisit anggaran mencapai Rp45,8 triliun,
lebih besar dari tahun lalu dalam periode yang sama Rp37 triliun,” kata
Sri Mulyani di Jakarta.
Realisasi defisit anggaran ini berasal dari
pendapatan negara sebesar Rp108,1 triliun atau lima persen dari target serta
belanja negara Rp153,8 triliun atau 6,3% dari pagu.
Pendapatan negara tersebut mencakup penerimaan
perpajakan Rp89,8 triliun atau 5% dari target, dan penerimaan negara bukan
pajak Rp18,3 triliun atau 4,8% dari target.
Penerimaan perpajakan tersebut berasal dari
penerimaan pajak termasuk PPh migas sebesar Rp86 triliun atau 5,5% dari target
dan penerimaan kepabeanan dan cukai Rp3,8 triliun atau 1,8% dari target.
Sedangkan, realisasi belanja negara terdiri atas
belanja pemerintah pusat sebesar Rp76,1 triliun atau 4,7% dari pagu serta
transfer ke daerah dan dana desa mencapai Rp77,7 triliun atau 9,4% dari pagu.
Belanja pemerintah pusat mencakup belanja
Kementerian/Lembaga yang sudah mencapai Rp32 triliun atau 3,75 dari pagu serta
belanja non Kementerian Lembaga sebesar Rp44,1 triliun atau 5,7% dari pagu.
Untuk menutup defisit anggaran tersebut, realisasi
pembiayaan anggaran sudah mencapai Rp122,5 triliun atau lebih rendah dari tahun
lalu Rp27,6 triliun.
“Pembiayaan anggaran sampai Januari ini kita
telah merealisasi Rp122,5 triliun karena adanya front loading (pendanaan APBN melalui pasar modal di awal tahun)
yang dilakukan dalam rangka mengantisipasi kondisi pasar yang,dan kita lihat
juga ada kesempatan yang cukup menguntungkan (favorable) pada bulan Januari ini,” ujar Sri.
Dalam kesempatan ini, pemerintah juga mencatat
neraca keseimbangan primer mencapai defisit Rp22,8 triliun, dibandingkan pada
periode sama di 2018 yang sebesar Rp14,2 triliun. (Ant)




