Senin, Maret 2, 2026

Target Menpar Arief, Hasilkan Devisa USD17,6 Miliar dan Kalahkan Sawit

Must Read

Moneter.id – Menteri Pariwisata (Menpar)
Arief Yahya menargetkan sektor pariwisata Indonesia 
dapat menghasilkan devisa hingga 17,6 miliar dolar AS atau melampaui devisa dari sawit
yang selama ini terbesar
 di Tanah Air.

“Pariwisata Indonesia dalam
beberapa tahun terakhir tumbuh sebesar 25,68
%. Naik signifikan dari tahun 2018 yang tumbuh 13%. Artinya naik dua kali lipat, dan jauh lebih tinggi
dari pertumbuhan di ASEAN yang hanya 7
%,” kata Menpar Arief
Yahya saat menjadi narasumber dalam acara Media Visit di Menara Kompas, Jakarta, Senin (29/
04).

Oleh karena itu, ia
menargetkan sektor pariwisata bisa menjadi penghasil devisa terbesar dengan
angka proyeksi 17,6 miliar dolar AS. Angka tersebut mengalahkan devisa
dari 
crude palm oil (CPO) sebesar 16 miliar dolar AS.

“Kalau target pencapaian 20
juta wisman pada 2019 belum tercapai, dengan penghasilan devisa pariwisata akan
jadi nomor satu, melebihi CPO yang kini devisanya 16 miliar dolar,” kata
Menpar Arief Yahya
.

Ia juga menyampaikan untuk
mencapai target tersebut Kementerian Pariwisata memiliki tiga strategi pada
2019 yaitu pengembangan pemasaran, pengembangan destinasi, dan peningkatan
Sumber Daya Manusia (SDM) sektor pariwisata.

“Di bidang pemasaran kami 70% menggunakan digital. Karena saat ini sudah era
digital. Costumer kita juga 70
% sudah menggunakan digital. Tidak hanya itu, ada
juga 
crossborder
tourism
low cost carrier terminal,
dan 
tourism hub,” ujar Menpar.

Untuk pengembangan destinasi sendiri, pemerintah
Indonesia sudah menetapkan 10 destinasi prioritas. Dari 10 destinasi itu 4
telah ditetapkan menjadi destinasi super prioritas yang akan dipercepat
pengembangannya, yaitu, Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo.

“Untuk SDM, pada 2019 kami targetkan ada 500 ribu
orang yang tersertifikasi level ASEAN,” ujarnya.

Terkait tantangan dari sektor
pariwisata pada 2019, Menpar Arief mengatakan kebijakan tarif di industri
penerbangan sangat mempengaruhi sektor pariwisata. Dia berharap ada harga
yang fleksibel
 (price
elasticity
).

Menurut dia, jika harga tiket untuk penerbangan
domestik naik, secara otomatis akan berpengaruh pada permintaan tiket. Turunnya
jumlah permintaan tiket tersebut kemudian bisa berdampak pada sektor pariwisata
di Indonesia.

“Kalau ingin menaikan tarif
jangan langsung besar dan mendadak. Sesuatu yang mendadak dan besar dampaknya
relatif tidak bagus apalagi kalau itu kenaikan harga suatu barang atau jasa.
Jadi kalau mau naik 100
% proyeksikan saja naiknya
secara bertahap,” ujarnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BCA Alokasikan Dana Tunai Rp65,7 Triliun Guna Penuhi Kebutuhan Transaksi Ramadan dan Idulfitri 2026

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan kesiapannya dalam mendukung kelancaran transaksi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img