Moneter.id – Petani tambak
garam di wilayah pesisir utara Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mengalami kerugian
mencapai Rp500 juta sampai Rp700 juta akibat tumpahan minyak mentah di anjungan
Lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore Nort West Java (PHE ONWJ).
“Kami
tidak bisa produksi selama sekitar sepekan, karena tambak garam tercemar minyak mentah,”
kata Ketua Koperasi Garam Segarajaya Karawang Aep Suhardi, di Karawang, Jawa
Barat, Jumat (2/7).
Aep
mengatakan produksi garam di wilayah Tempuran dan Cilamaya Kulon rata-rata
mencapai satu ton per hari. Di dua wilayah pesisir utara Karawang itu ada
sekitar 100 hektare tambak garam.
Aep
memperkirakan kerugian petani tambak garam selama sepekan tidak bisa produksi
itu mencapai lebih dari Rp500 juta.
Ia
mengaku didata oleh pihak Pertamina terkait dampak peristiwa tumpahan minyak
mentah di perairan utara Karawang. Tapi belum dipastikan apakah dirinya akan
mendapatkan ganti rugi atau tidak.
“Sudah.
Sudah dicek oleh orang Pertamina. Sampel air tambak garam juga beberapa waktu
lalu sudah diambil untuk di uji lab,” kata Aep.
Dia
berharap pihak Pertamina memberikan
ganti rugi atau kompensasi kepada para petani tambak garam, karena kerugian
akibat terhentinya produksi cukup besar.
Sementara
saat ini para petani tambak garam sudah kembali memproduksi garam setelah
selama sepekan terhenti akibat air tambah mereka terkena tumpahan minyak mentah
milik Pertamina.
“Sekarang
sudah normal kembali, sudah produksi. Tapi harga garam sekarang turun, Rp700
per kilogram. Biasanya mencapai Rp2.000 sampai Rp3.000 per kilogram,” kata Aep. (Ant)




