Moneter.id – Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif
Indonesia-Australia atau Indonesia Australia
Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) telah diratifikasi
oleh DPR RI, 6 Februari lalu.
“Indonesia berharap, dengan telah diratifikasinya IA-CEPA
ini, maka dalam 5 tahun ke depan, kedua negara sudah mempunyai peta jalan yang
jelas atau plan of action. Dengan demikian, diharapkan hubungan bilateral
Indonesia-Australia akan semakin kuat dan saling menguntungkan,” kata Direktur
Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI), Iman Pambagyo, Selasa
(11/2).
Iman berharap, pebisnis Australia dapat melakukan diskusi
yang bermanfaat dengan mitra mereka yang ikut serta dalam forum tersebut. Sementara
untuk para pebisnis diharapkan lebih mempersiapkan diri lebih baik dan
memperkuat kerja sama dalam mengembangkan pasar, serta mendorong satu sama lain
untuk melakukan hubungan bisnis.
Saat ini, Indonesia melakukan kerja sama dengan Australia
di berbagai bidang, di antaranya telekomunikasi, rumah sakit, pertambangan,
asuransi, konstruksi, pendidikan tinggi, serta pelatihan kejuruan teknis.
Indonesia juga memberikan tarif khusus untuk beberapa produk pertanian,
termasuk biji-bijian pakan, dan untuk gulungan baja canai panas/dingin.
Dalam mengatasi hambatan perdagangan, Dirjen PPI
menjelaskan bahwa terdapat beberapa strategi yang dilakukan pemerintah dalam
upaya memperluas perdagangan yaitu dengan meningkatkan produktivitas dan daya
saing, serta melanjutkan reformasi dalam perdagangan dan investasi agar lebih
terintegrasi ke dalam ekonomi dunia.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah
menetapkan 5 prioritas pembangunan, yaitu sumber daya manusia, infrastruktur,
penyederhanaan peraturan, efisiensi birokrasi, dan transformasi ekonomi.
Untuk itu, Dirjen PPI mengundang para pebisnis Australia
untuk datang ke Trade Expo Indonesia yang akan diadakan pada 30 September
hingga 4 Oktober 2020 mendatang.
Pada tahun lalu, terdapat 133 delegasi bisnis Australia
yang datang ke acara tersebut dengan transaksi yang dihasilkan selama pameran
mencapai USD 25,79 juta. Produk yang diminati dari Indonesia, antara lain
produk pertanian, makanan olahan, rempahrempah, produk plastik, furnitur,
herbal, dan barang konsumsi.
Selain itu, Dirjen PPI juga mengundang pebisnis Australia
untuk mengunjungi Paviliun Indonesia di Expo 2020 Dubai yang akan
diselenggarakan dari 20 Oktober 2020 hingga 10 April 2021 mendatang.
Sekedar informasi, pada tahun 2019, total perdagangan
Indonesia dan Australia mencapai USD 7,8 miliar. Produk ekspor utama Indonesia
ke Australia yaitu minyak bumi, cerutu, kayu, monitor dan proyektor, ban, dan
alas kaki.
Sementara, produk impor utama dari Australia adalah
minyak bumi, gandum dan meslin, batu bara, sapi hidup, ferro nikel, dan bijih
besi. Ekspor Indonesia ke Australia sebesar 1,2% dari total impor Australia
dari dunia.
Sementara, ekspor Australia ke Indonesia sebesar 3,1%
dari total impor Indonesia dari dunia. Untuk investasi, pada tahun 2018,
Australia merupakan investor terbesar ke-10 di Indonesia, mencakup 635 proyek
di Indonesia dengan jumlah total sekitar USD 597,4 juta.
Saat ini, investasi Australia di Indonesia sebagian besar
bergerak di bidang pertambangan, logam, pertanian, real estate, permesinan, dan transportasi. Sementara, Indonesia
merupakan negara tujuan investasi favorit ke-4 di dunia dan memiliki potensi
besar.




