Moneter.id – Rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Bank Pembangunan Dearah Banten Tbk (BEKS) atau Bank Banten menyetujui
rencana penawaran umum terbatas (PUT) VI dan VII melalui penambahan modal
dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue.
“Semua agenda RUPSLB disetujui mulai
penambahan modal PUT VI dan VII dengan right
issue saham seri C baru sebanyak 400 miliar saham bernomimal Rp 8 per
lembar saham,” kata Direktur Utama Bank Banten, Fahmi Bagus Mahesa di Jakarta, Rabu
(26/2/2020).
Melalui PUT VI, katanya, perseroan berharap
dapat meraup dana sekitar Rp500 miliar dan dari PUT VII dapat meraup dana Rp700
miliar. Nantinya, dana hasil right issue
akan digunakan untuk pengembangan usaha dan penguatan struktur permodalan.
Sementara itu, Komisaris Bank Banten, Media
Warman mengatakan, setelah mendapatkan persetujuan aksi korporasi pihaknya akan
melaporkannya kepada PT Banten Global Development selaku kepanjangantangan
pemerintah provinsi dan kabupaten kota Banten.
”Tentunya Pemerintah provinsi Banten akan
mendapat kesempatan pertama untuk mendapatkan saham right issue,” kata dia.
Namun, kata Media, untuk PUT IV Pemerintah
Provinsi Banten dan Kabupaten dan kota se Banten tidak mengambil hak rights issue terlebih dahulu karena
perlu proses persetujuan anggaran di DPRD.
“Untuk PUT IV pemprov Banten tidak ikut dulu,
tapi di PUT VII akan ikut karena diharapkan persetujuan anggarannya sudah
didapat. Dengan ikut lagi maka porsi pemprov Banten akan tetap di 51%” kata
dia.
Dengan demikian, kata dia, dalam PUT VI akan
ditawarkan kepada investor diluar pemegang saham yang telah tercatat saat
ini.“Kita tengah tawarkan kepada investor dan saat ini sudah ada yang kami
dekati baik investor luar maupun dalam negeri,” tungkasnya.
Sekedar informasi, berdasarkan indikator
kinerja keuangan Bank Banten, terjadi peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar
17,43% secara year on year (yoy) dari
Rp5,72 triliun pada September 2018 menjadi Rp6,72 triliun pada September 2019
yang diikuti dengan perbaikan komposisi CASA.
Sedangkan di sektor kredit terjadi penurunan
sebesar 3,81% secara yoy dari Rp5,73 triliun pada September 2018 menjadi Rp5.51
triliun pada September 2019.
Hal tersebut merupakan inisiatif “rebalancing asset” perseroan guna
meningkatkan kinerja kredit melalui realokasi aset berupa portfolio kredit UMKM
(ex Pundi & Eksekutif) yang tidak lagi menjadi bagian dari model bisnis
inti perseroan.




