Di usia yang ke-17, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan infrastruktur tidak lagi hanya diukur dari megahnya fisik bangunan, melainkan dari kedalaman dampak ekonomi dan sosial yang dihasilkan. Melalui Simposium PT SMI 2026, perusahaan pembiayaan di bawah kendali Kementerian Keuangan ini mendorong pergeseran paradigma menuju pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Hadir dalam forum tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pentingnya peran instrumen pembiayaan kreatif di tengah keterbatasan ruang fiskal negara. Menurutnya, APBN tidak bisa berdiri sendiri dalam memikul beban pembangunan nasional yang kian kompleks. Purbaya menegaskan bahwa kolaborasi dengan institusi seperti PT SMI menjadi kunci untuk menjaga likuiditas sistem keuangan sekaligus memastikan sektor riil tetap bergerak.
“Pemerintah tidak dapat membiayai seluruh kebutuhan pembangunan, sehingga APBN harus berperan sebagai katalis, terutama pada proyek-proyek yang memiliki multiplier effect tinggi. Dalam konteks ini, kolaborasi dengan institusi seperti PT SMI menjadi sangat penting dalam memperkuat pembiayaan pembangunan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Purbaya.
Sejak berdiri, PT SMI telah menyalurkan komitmen pembiayaan sebesar Rp275 triliun dengan total nilai proyek mencapai Rp1.183 triliun. Dampaknya cukup signifikan terhadap ekonomi makro, dengan kontribusi sebesar 0,5% terhadap PDB nasional serta penyerapan tenaga kerja yang mencapai 10,9 juta orang di seluruh pelosok Indonesia.
Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah, mengungkapkan bahwa tantangan ke depan jauh lebih besar daripada sekadar skala pembiayaan. Fokus perusahaan kini bergeser sebagai Development Finance Institution (DFI) yang berperan sebagai penyedia ekosistem kolaboratif. Reynaldi menekankan bahwa aspek lingkungan dan sosial kini menjadi harga mati dalam setiap kontrak pembiayaan yang diberikan.
“Ke depan, tantangan pembangunan infrastruktur tidak hanya tentang skala pembiayaan, tetapi bagaimana pembiayaan yang diberikan mampu menciptakan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang nyata. PT SMI berkomitmen untuk terus memperkuat perannya sebagai enabler terciptanya ekosistem pembangunan yang kolaboratif dan berkelanjutan,” kata Reynaldi.
Komitmen terhadap aspek keberlanjutan ini dibuktikan dengan penganugerahan SMI Environmental and Social Safeguards (ESS) Awards. Penghargaan ini diberikan kepada sepuluh debitur, termasuk PT Angkasa Pura Indonesia dan PT PLN (Persero), yang dinilai melampaui aspek kepatuhan standar dalam menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan dan sosial di setiap proyeknya.
Bagi PT SMI, inisiatif ini merupakan penegasan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar pemanis dalam laporan tahunan. Reynaldi menutup dengan menegaskan bahwa prinsip lingkungan dan sosial kini telah menjadi standar operasional yang terintegrasi penuh dalam setiap aktivitas pembiayaan perseroan, demi memastikan pembangunan yang benar-benar berdampak bagi generasi mendatang.




