Citibank N.A. Indonesia (Citi Indonesia) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja positif. Bank asing tersebut membukukan laba bersih Rp2,8 triliun atau tumbuh 10% dibandingkan tahun sebelumnya, ditopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan ekspansi bisnis korporasi yang tetap solid di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kenaikan laba tersebut ditopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 7%, sementara beban operasional tetap terjaga stabil. Efisiensi itu mendorong tingkat profitabilitas perseroan, tercermin dari return on equity (ROE) sebesar 14,4% dan return on assets (ROA) sebesar 3,8%.
Presiden Direktur Batara Sianturi mengatakan capaian ini menjadi hasil dari strategi perseroan yang fokus pada tiga pilar utama bisnis, yakni banking, markets, dan services.
“Pada tahun 2025, Citi Indonesia membukukan kinerja yang baik dengan membukukan laba bersih sebesar Rp2,8 triliun. Pencapaian ini didorong oleh strategi yang terfokus pada ketiga lini bisnis inti kami yang saling terhubung, yaitu Banking, Markets, dan Services,” ujar Batara.
Menurut Batara, disiplin dalam eksekusi strategi bisnis turut menjaga kualitas pertumbuhan. Peningkatan pendapatan bunga bersih dan stabilitas biaya operasional dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
“Kinerja yang baik ini mencerminkan pertumbuhan yang berkelanjutan serta komitmen jangka panjang kami dalam mendukung kemajuan perekonomian Indonesia, sejalan dengan prioritas pemerintah dan regulator perbankan,” katanya.
Dari sisi fundamental, Citi Indonesia menjaga likuiditas dan permodalan pada level kuat. Rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat sebesar 264% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 168%, jauh di atas batas minimum regulator. Sementara rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) mencapai 38,5%.
Sepanjang 2025, lini banking menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Citi aktif menyalurkan pembiayaan korporasi, termasuk fasilitas pinjaman perdagangan bilateral US$30 juta kepada PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk dan pinjaman modal kerja Rp1 triliun kepada PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.
Di pasar modal, Citi memperkuat perannya dalam transaksi strategis global. Bank ini tercatat menjadi joint lead manager dan bookrunner penerbitan obligasi global perdana senilai US$1 miliar milik PT Pertamina Hulu Energi.
Tak hanya itu, Citi juga berperan sebagai penasihat keuangan eksklusif dalam merger XL Axiata dan Smartfren yang melahirkan PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk, salah satu aksi korporasi terbesar di sektor telekomunikasi tahun lalu.
Pada segmen Treasury and Trade Solutions (TTS), Citi Indonesia mencatat pertumbuhan bisnis sebesar 3%. Pertumbuhan ini didorong oleh penguatan layanan omnicollection untuk sektor ritel dan e-commerce, serta peningkatan layanan digital melalui migrasi nasabah ke platform CitiDirect V3.
Selain itu, program pembiayaan rantai pasok perseroan mencatat pertumbuhan jumlah pemasok terdaftar sebesar 16% sepanjang 2025. Hal ini memperlihatkan kebutuhan pembiayaan modal kerja di tingkat pemasok domestik masih terus meningkat.
Sementara di lini markets, Citi Indonesia memperkuat dominasinya di pasar valuta asing dan obligasi. Perseroan bahkan meraih penghargaan Best Sellside 2025 untuk Obligasi Mata Uang Lokal dari Asset Benchmark Research.
Di tengah kompetisi industri perbankan yang semakin ketat, kinerja Citi Indonesia menunjukkan bahwa bisnis perbankan korporasi dan layanan transaksi global masih menjadi sumber pertumbuhan yang menjanjikan, terutama saat kebutuhan pendanaan dan transformasi digital korporasi terus meningkat.




