Danantara Indonesia Trust (DIT), yayasan filantropi independen yang berada di bawah naungan Danantara Indonesia, memulai langkah strategisnya dengan menjalin kemitraan bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Karya Salemba Empat (KSE), serta Museum dan Cagar Budaya.
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, pada Senin (25/5), menjadi tonggak awal pelaksanaan program filantropi DIT yang berfokus pada sektor kesehatan, pendidikan, dan literasi budaya.
Acara tersebut disaksikan oleh Pembina Danantara Indonesia Trust sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Pendiri Didit Hediprasetyo Foundation Didit Hediprasetyo, serta Pendiri Karya Salemba Empat Tatan A. Taufik.
Rosan mengatakan kehadiran Danantara Indonesia tidak hanya bertujuan mengelola aset dan investasi negara, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan sosial yang berkelanjutan. Menurut dia, pembentukan DIT menjadi langkah untuk memperluas dampak sosial melalui penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Danantara Indonesia didirikan bukan hanya untuk mengelola aset dan investasi negara, tetapi juga untuk berkontribusi pada kemajuan sosial Indonesia. Melalui Danantara Indonesia Trust, kami memperluas misi kami untuk memperkuat sumber daya manusia dan menjawab tantangan sosial, karena kami percaya bahwa penciptaan nilai jangka panjang harus berjalan seiring dengan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Rosan.
Salah satu kerja sama utama yang dijalankan DIT adalah dengan Kementerian Kesehatan. Kemitraan ini difokuskan pada peningkatan kesehatan ibu dan anak melalui penyediaan vaksin heksavalen untuk melindungi jutaan anak dari berbagai penyakit menular, penguatan infrastruktur rantai dingin vaksin, serta distribusi suplemen Multiple Micronutrient guna meningkatkan keselamatan ibu hamil dan menekan risiko stunting.
Langkah tersebut dilakukan di tengah masih besarnya tantangan kesehatan masyarakat. Data WHO dan UNICEF pada 2026 menunjukkan cakupan imunisasi dasar lengkap Indonesia telah mencapai 80,2% pada 2025. Namun, masih terdapat hampir 960.000 anak yang belum pernah menerima imunisasi sama sekali atau tergolong zero-dose. Di sisi lain, angka kematian ibu masih berada pada level 189 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sementara prevalensi stunting meski telah menurun menjadi 19,8% pada 2024 masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
Selain sektor kesehatan, DIT juga mengalokasikan dukungan pada pengembangan sumber daya manusia melalui kerja sama dengan Karya Salemba Empat. Program tersebut mencakup pemberian beasiswa selama tiga tahun bagi sekitar 500 mahasiswa dari keluarga kurang mampu di berbagai daerah di Indonesia. Para penerima manfaat tidak hanya memperoleh bantuan pendidikan, tetapi juga akses pendampingan, pengembangan kepemimpinan, dan program kesiapan karier.
Inisiatif ini dinilai relevan dengan kondisi ketenagakerjaan dan pendidikan nasional. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2025, sekitar seperlima penduduk muda usia 15–24 tahun berada dalam kategori tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan atau NEET (Not in Education, Employment or Training). Selain itu, sekitar 4,1 juta anak dan remaja usia 7–18 tahun juga tercatat tidak bersekolah.
Di bidang budaya, DIT menjalin kemitraan dengan Museum dan Cagar Budaya untuk mengembangkan Perpustakaan Danantara Indonesia Trust yang akan berlokasi di Museum Nasional. Program ini dirancang untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan literasi budaya, sekaligus memperkuat keterhubungan antara pendidikan dan pelestarian warisan budaya nasional.
Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust Nuraini Razak mengatakan seluruh program yang diluncurkan pada tahap awal ini dipilih berdasarkan kebutuhan pembangunan yang paling mendesak di Indonesia.
“Setiap kemitraan yang diumumkan hari ini dipilih untuk menjawab kebutuhan pembangunan paling mendesak di Indonesia, seperti kesehatan ibu dan anak, akses terhadap pendidikan berkualitas serta literasi budaya. Melalui kolaborasi ini, program-program tersebut akan menjadi fondasi DIT sebagai platform yang memobilisasi aksi kolektif, mendorong solusi berskala besar, dan menghadirkan dampak nyata di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ke depan, DIT berencana memperluas jangkauan program melalui pengembangan inisiatif-inisiatif katalitik lainnya, memperkuat kerja sama dengan lembaga global, serta membuka peluang pendanaan bersama atau co-funding guna meningkatkan dampak sosial dari setiap program yang dijalankan.




