Lonjakan biaya penanganan penyakit kritis semakin menjadi tantangan bagi industri kesehatan dan asuransi. Data Allianz Indonesia menunjukkan biaya perawatan penyakit jantung sepanjang periode 2020-2025 melonjak hingga 219%, sementara biaya pengobatan kanker meningkat 179% dan stroke naik 169%. Kenaikan tersebut terjadi di tengah inflasi medis Indonesia yang diproyeksikan mencapai 17,8% pada 2026, tertinggi di Asia.
Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia Rina Triana mengatakan tekanan biaya kesehatan tidak hanya berasal dari inflasi medis, tetapi juga dipengaruhi perkembangan teknologi layanan kesehatan dan faktor ekonomi makro. Ketergantungan Indonesia terhadap obat-obatan serta alat kesehatan impor membuat pelemahan nilai tukar rupiah ikut berdampak terhadap biaya layanan medis.
Sepanjang 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah telah membayarkan klaim dan manfaat sebesar Rp6,3 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp3,7 triliun merupakan pembayaran klaim kesehatan.
“Ketika biaya layanan kesehatan terus meningkat, tantangannya bukan hanya menjaga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap layanan yang berkualitas saat ini, tetapi juga memastikan perlindungan kesehatan tetap relevan dan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” ujar Rina dalam Media Workshop bertema Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis, Rabu (17/6).
Menurut Rina, industri asuransi perlu melakukan berbagai penyesuaian untuk menjaga kecukupan manfaat agar masyarakat tetap dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang dibutuhkan di tengah tren kenaikan biaya medis. Ia menilai perlindungan kesehatan seharusnya dipandang sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang, terutama karena penyakit kritis tidak hanya menimbulkan biaya rawat inap, tetapi juga biaya pemulihan dan pengobatan lanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Bayushi Eka Putra mengatakan penyakit jantung masih menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di Indonesia dan kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Kondisi tersebut dipicu oleh berbagai faktor risiko, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, stres, pola makan yang tidak sehat, hingga kebiasaan merokok.
Menurutnya, biaya penanganan penyakit jantung relatif besar karena mencakup pemeriksaan awal, tindakan medis, penggunaan alat kesehatan, hingga terapi lanjutan. Kemajuan teknologi medis memang meningkatkan kualitas diagnosis dan pengobatan, tetapi pada saat yang sama turut mendorong kenaikan biaya layanan kesehatan.
“Banyak faktor risiko penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan sejak dini. Namun, ketika risiko terjadi, penanganannya sering kali membutuhkan tindakan yang kompleks dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, mengenali faktor-faktor risiko yang dimiliki, serta mempersiapkan perlindungan kesehatan menjadi sangat penting,” kata Bayushi.
Rina menambahkan, tantangan ke depan bukan hanya menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan manfaat perlindungan tetap berkelanjutan di tengah perubahan lanskap kesehatan. Menurut dia, meningkatnya risiko kesehatan dan biaya perawatan membuat perlindungan kesehatan semakin penting untuk menjaga stabilitas keuangan keluarga.
“Ke depan, tantangannya bukan hanya menghadirkan perlindungan kesehatan yang relevan dengan kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan manfaatnya tetap berkelanjutan di tengah perubahan lanskap kesehatan. Saat risiko kesehatan dan biaya perawatan terus meningkat, perlindungan kesehatan menjadi semakin penting sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang keluarga,” tutupnya.




