Jumat, Juni 19, 2026

RAPBN 2027 Harus Jaga Daya Beli dan Perkuat Produktivitas Ekonomi Nasional

Must Read

Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dinilai perlu menjadi instrumen transformasi ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian target pertumbuhan, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas pembangunan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M. Rizal Taufikurahman berpandangan bahwa tantangan utama RAPBN 2027 bukan hanya mengejar target pertumbuhan ekonomi 5,8–6,5%, tetapi memastikan kualitas pertumbuhan melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi belanja negara.

Setiap rupiah anggaran harus mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian, mendorong investasi yang produktif, memperkuat daya saing, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Di sisi lain, penyesuaian harga BBM non-subsidi sebagai konsekuensi pengurangan subsidi energi berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, terutama kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan konsumsi namun relatif tidak terlindungi oleh program bantuan sosial.

Apabila terjadi pergeseran konsumsi ke Pertalite dalam skala besar, tekanan inflasi memang dapat lebih terkendali, tetapi konsekuensinya adalah meningkatnya beban subsidi energi yang pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Penguatan kredibilitas fiskal perlu dilakukan melalui optimalisasi penerimaan negara berbasis digitalisasi perpajakan, peningkatan kualitas belanja dengan prinsip spending better, pengelolaan defisit dan utang yang lebih hati-hati, serta penguatan kapasitas fiskal pemerintah daerah. RAPBN 2027 seharusnya menjadi instrumen transformasi ekonomi yang tidak hanya menjaga stabilitas makro, tetapi juga melindungi daya beli masyarakat, mempercepat hilirisasi industri, memperkuat UMKM, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih produktif.

Terakhir, keberhasilan RAPBN 2027 tidak semata diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal, stabilitas makroekonomi, dan pertumbuhan yang inklusif sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Bank Indonesia Kerek BI-Rate 25 Bps Menjadi 5,75 Persen

Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen dalam...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img