Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Juni 2026 mencapai 1,39 juta kunjungan. Angka tersebut meningkat tipis sebesar 0,32 persen dibandingkan Mei 2026 (month-to-month/m-to-m), namun masih mengalami penurunan 2,15 persen dibandingkan Juni 2025 (year-on-year/y-on-y).
Meski secara tahunan mengalami penurunan pada Juni, secara kumulatif kinerja pariwisata Indonesia masih menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, jumlah kunjungan wisman mencapai 7,45 juta kunjungan atau meningkat 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selama semester pertama 2026, jumlah kunjungan wisman bergerak fluktuatif. Pada Januari tercatat sebanyak 1,19 juta kunjungan, kemudian turun menjadi 1,16 juta pada Februari dan 1,09 juta pada Maret. Memasuki April, jumlah kunjungan kembali meningkat menjadi 1,25 juta, lalu naik menjadi 1,38 juta pada Mei dan mencapai 1,39 juta kunjungan pada Juni.
Berdasarkan pintu masuk, sebanyak 1,21 juta wisman datang melalui pintu masuk utama, sementara 175,70 ribu kunjungan melalui pintu masuk perbatasan. Moda transportasi udara masih mendominasi dengan kontribusi 78,84 persen dari total kunjungan melalui pintu masuk utama, sedangkan moda laut menyumbang 17,12 persen dan moda darat 4,04 persen.
Kunjungan melalui jalur udara mencapai 954,63 ribu orang pada Juni 2026. Jumlah tersebut naik 2,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya, meski turun 2,48 persen dibandingkan Juni 2025. Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Banten menjadi dua pintu masuk udara utama yang paling banyak dilalui wisman dengan total 845,64 ribu kunjungan atau berkontribusi 88,58 persen dari seluruh kedatangan melalui jalur udara.
Sementara itu, kunjungan melalui jalur laut tercatat sebanyak 207,26 ribu orang atau turun 10 persen dibandingkan Juni 2025 dan turun 3,87 persen dibandingkan Mei 2026. Pelabuhan Batam dan Tanjung Uban di Kepulauan Riau menjadi pintu masuk laut utama dengan kontribusi mencapai 89,43 persen atau sekitar 185,35 ribu kunjungan.
Berbeda dengan moda lainnya, jalur darat justru mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Pada Juni 2026, jumlah wisman yang masuk melalui jalur darat mencapai 48,99 ribu kunjungan, meningkat 24,70 persen secara tahunan dan naik 8,65 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pos lintas batas Atambua di Nusa Tenggara Timur dan Lintas Batas Jayapura di Papua menjadi pintu masuk darat dengan kontribusi terbesar, yakni 81,12 persen atau sekitar 39,74 ribu kunjungan.
Dilihat dari kewarganegaraan berdasarkan paspor yang digunakan, wisatawan asal Malaysia masih menjadi penyumbang kunjungan terbesar ke Indonesia dengan 258,69 ribu kunjungan atau 18,66 persen dari total wisman pada Juni 2026. Posisi berikutnya ditempati Singapura sebanyak 169,91 ribu kunjungan (12,25 persen), Australia 167,50 ribu kunjungan (12,08 persen), dan Tiongkok 117,51 ribu kunjungan (8,47 persen).
Secara tahunan, sebagian besar kelompok wisman berdasarkan kawasan paspor mengalami penurunan. Penurunan terbesar terjadi pada pemegang paspor Timur Tengah sebesar 8,58 persen, disusul Eropa sebesar 6,91 persen dan ASEAN sebesar 3,18 persen. Sebaliknya, kunjungan dari pemegang paspor Afrika dan Oseania justru meningkat masing-masing sebesar 8,87 persen dan 7,59 persen.
BPS juga mencatat rata-rata lama tinggal wisman yang meninggalkan Indonesia pada Juni 2026 mencapai 9,82 malam. Wisatawan asal negara-negara Eropa menjadi kelompok dengan lama tinggal tertinggi, yakni rata-rata 18,43 malam. Berdasarkan kewarganegaraan, wisatawan asal Rusia mencatat durasi tinggal terlama dengan rata-rata 24,73 malam. Sebaliknya, wisatawan asal Timor Leste memiliki rata-rata lama tinggal paling singkat, yakni 2,87 malam.




