PT Pertamina (Persero) mempercepat transformasi bisnis menuju energi rendah karbon. Sepanjang semester I 2026, program dekarbonisasi Pertamina Group berhasil mencapai 118% dari target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026.
Capaian tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan bisnis rendah karbon yang hingga Juni 2026 telah mencapai 101% dari target tahunan. Pertamina mengandalkan sejumlah lini bisnis dan program, mulai dari biofuel, bioethanol, efisiensi energi hingga pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan dekarbonisasi menjadi bagian dari implementasi environmental, social, and governance (ESG) di seluruh lini bisnis perusahaan.
“Sebagai perusahaan energi kelas dunia, Pertamina berkomitmen menjalankan ESG sesuai dengan standar dunia. Dekarbonisasi Pertamina juga merupakan komitmen Perusahaan menjalankan target Pemerintah mencapai NZE pada tahun 2060,” ujar Baron.
Menurut Baron, pencapaian bisnis rendah karbon hingga semester I 2026 ditopang oleh sejumlah program utama yang realisasinya telah melampaui target.
“Pencapaian ini didukung oleh beberapa program utama seperti bioethanol, biofuel, dan efisiensi energi yang mampu melampaui target yang telah ditetapkan,” ujar Baron.
Pertamina juga memperluas portofolio energi rendah karbon melalui SAF, biogasoline, biodiesel, dan pembangkit energi rendah karbon. Untuk SAF, perusahaan menargetkan volume pengangkatan sebesar 27.000 kiloliter (KL) dan penjualan 6.000 KL sepanjang 2026.
Sementara itu, pengembangan biogasoline dilakukan dengan mencampurkan bioethanol 5% ke dalam bensin RON 95. Hingga Juni 2026, realisasi penjualan biogasoline telah mencapai 23.280 KL.
Perluasan bisnis hijau tersebut menjadi bagian dari transformasi portofolio Pertamina di tengah meningkatnya tuntutan terhadap industri energi untuk menekan emisi sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis.
Tak hanya pada aspek lingkungan, kinerja ESG Pertamina juga ditopang program di bidang sosial dan tata kelola. Program sustainable procurement, sustainability budget tagging, serta pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan mencapai 102% dari target yang ditetapkan dalam RKAP 2026.
“Keberhasilan ini mencerminkan pelaksanaan program yang efektif terutama pada aspek tata kelola, sosial, dan sistem pendukung keberlanjutan,” terang Baron.
Dari sisi indikator eksternal, Pertamina memperoleh skor B dari Carbon Disclosure Project (CDP) untuk kategori perubahan iklim dan A- untuk keamanan air. Sementara skor Good Corporate Governance (GCG) Pertamina pada 2025 mencapai 97,14% atau masuk kategori “Sangat Baik”.
Baron mengatakan capaian tersebut menjadi modal bagi perusahaan untuk memperkuat pengelolaan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola.
“Berbagai capaian tersebut menjadi dorongan bagi Pertamina untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola perusahaan. Bagi Pertamina, keberlanjutan dan prinsip ESG menghasilkan dampak nyata bagi lingkungan, masyarakat, dan keberlanjutan bisnis,” kata Baron.
Penguatan agenda energi hijau Pertamina juga mendapat pengakuan melalui KESGI Award 2026 yang digelar Katadata ESG Sustainability Insight (KESGI) di Sudirman Hall, Jakarta, pada 17 September 2026.
Dalam ajang tersebut, Pertamina memboyong empat penghargaan utama di sektor minyak dan gas untuk kategori yang berkaitan dengan pilar ESG, lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa strategi Pertamina tidak hanya diarahkan pada penurunan emisi, tetapi juga mulai mengintegrasikan agenda transisi energi ke dalam pengembangan portofolio bisnis. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar kinerja dekarbonisasi dan bisnis rendah karbon tetap tumbuh sekaligus memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap kinerja perusahaan.




