Moneter.co.id – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Hizkia
Respatiadi menyatakan posisi Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai importir
tunggal untuk komoditas beras rawan disalahgunakan dan tidak efektif.
“Posisi Bulog sebagai pengimpor tidak efektif mengingat
Bulog sangat tergantung pada pertimbangan politis dan juga prosedur
birokrasi,” kata Respatiadi, Selasa (12/12).
Menurut Respatiadi, pemerintah sebaiknya membuka peluang
untuk sektor swasta untuk mengimpor beras. “Hal itu bertujuan untuk menghindari adanya
monopoli dan persaingan yang tidak sehat di pasar beras Tanah Air,” ucapnya.
Respatiadi berpendapat bahwa monopoli atas beras yang
dilakukan Bulog adalah salah satu masalah dalam tata niaga beras. “Merugikan
banyak pihak terutama konsumen yang paling merasakan dampak dari tingginya
harga beras di Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kewenangan yang hanya dimiliki oleh satu
pihak pasti akan menimbulkan dampak negatif.
Dengan pemain itu-itu saja, lanjut Respatiadi, tidak akan ada
kompetisi yang sehat dalam penyediaan beras. “CIPS memandang peran Bulog sebaiknya lebih
dimaksimalkan dalam distribusi beras untuk korban bencana alam atau situasi
darurat lainnya,” katanya.
“Peran itu, termasuk di dalamnya menyiapkan,
mengelola dan mendistribusikannya ke lokasi bencana,” tegas Respatiadi.
Sebelumnya, Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo)
meminta Perum Bulog untuk menangani pasokan ikan seperti komoditas pangan
lainnya yang sudah dilakukan oleh BUMN tersebut yakni beras, gula, daging dan
minyak goreng.
Ketua Umum Asparindo, Y Joko Setyanto, di Jakarta, Senin
(27/11), mengatakan, selama ini Bulog hanya memperhatikan stok dari daging,
sedangkan ikan sangat jarang sekali mendapatkan perhatian dari perusahaan
negara tersebut padahal jumlahnya melimpah.
“Kami tidak tahu apakah Bulog bisa menangani ikan, kami
selalu bingung kenapa selalu soal daging (yang diperhatikan), tapi ikan sedang
melimpah (tidak diperhatikan),” ujarnya di sela penandatanganan Nota
Kesepahaman Pendistribusian Komoditi Pangan Pokok Dalam Rangka Stabilisasi Harga
Pangan antara Perum Bulog bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo)
dan Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo).
Melalui kerja sama tersebut, Bulog, Aprindo dan Asparindo
berupa untuk menjaga pasokan dan melakukan stabilisasi harga pangan khususnya
menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.
(HAP/Ant)




