Rabu, April 15, 2026

Investasi Cloud Tersendat, 88% Perusahaan Dinilai Belum Siap Maksimalkan Potensi AI

Must Read

Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) yang semakin agresif di level global mulai menekan kesiapan infrastruktur digital perusahaan. Laporan terbaru NTT DATA mengungkap bahwa mayoritas korporasi masih menghadapi kesenjangan serius dalam transformasi cloud, yang berpotensi menghambat penciptaan nilai bisnis dari investasi AI.

Dalam laporan Cloud-led Innovation in the Era of AI: The New Rules for Driving Value with Cloud, NTT DATA mencatat hanya 14% organisasi di dunia yang telah mencapai tingkat kematangan cloud tertinggi. Temuan ini menjadi sorotan mengingat teknologi cloud telah diadopsi secara luas selama hampir dua dekade.

Berdasarkan survei terhadap lebih dari 2.300 pengambil keputusan senior di 33 negara, sebanyak 99% perusahaan menyatakan AI meningkatkan kebutuhan investasi cloud. Namun ironisnya, 88% responden justru menilai tingkat investasi saat ini masih berisiko menghambat inisiatif AI, cloud-native, dan modernisasi bisnis.

Kondisi tersebut mencerminkan adanya jurang antara ambisi transformasi digital dan realisasi di lapangan. Meski cloud dipandang sebagai fondasi inovasi, kurang dari separuh perusahaan mengaku puas terhadap dampak bisnis yang dihasilkan maupun kemajuan modernisasi yang telah dicapai.

NTT DATA menilai perusahaan yang telah masuk kategori cloud leaders memiliki posisi yang jauh lebih kompetitif dalam memanfaatkan AI. Kelompok ini berada pada tahap cloud evolved, yakni adopsi cloud yang matang dengan dampak nyata terhadap performa bisnis.

“Perkembangan AI melampaui tingkat kematangan cloud di perusahaan. Cloud kini telah berkembang jauh dari sekadar infrastruktur menjadi lapisan eksekusi dalam menjalankan AI. Perusahaan yang gagal mengembangkan fondasi cloud berisiko menghambat pertumbuhan dan nilai investasi AI mereka sendiri. Klien kami yang berhasil adalah mereka yang memandang cloud sebagai pencipta nilai, bukan sekadar inisiatif teknologi,” ujar Charlie Li, President, Global Head of Cloud and Security, NTT DATA, Inc.

Laporan tersebut menyoroti bahwa sinkronisasi strategi AI dan cloud kini menjadi kebutuhan mendesak. NTT DATA menemukan Chief AI Officer (CAIO) 22% lebih banyak memandang AI sebagai pendorong kebutuhan investasi cloud dibandingkan CIO dan CTO, menunjukkan adanya perbedaan perspektif di level manajemen.

Di sisi lain, modernisasi aplikasi masih menjadi pekerjaan rumah besar. Sekitar separuh responden menyebut sistem legacy dan platform data lama sebagai penghambat utama inovasi, sehingga modernisasi aplikasi diperkirakan menjadi prioritas investasi dalam dua tahun ke depan.

Pilihan arsitektur cloud juga semakin strategis. Perusahaan kini tidak lagi hanya mengandalkan public cloud, tetapi mulai memperluas model ke private, hybrid, hingga sovereign cloud. NTT DATA memproyeksikan sovereign cloud akan tumbuh hingga 50% dalam dua tahun, seiring meningkatnya kebutuhan keamanan data dan kepatuhan regulasi.

Efisiensi biaya menjadi tantangan lain yang belum terselesaikan. Lebih dari separuh organisasi mengaku masih kesulitan mengelola beban biaya cloud, sehingga tren penggunaan platform cloud terkelola diperkirakan meningkat tajam dalam beberapa tahun mendatang.

Selain itu, perusahaan juga didorong untuk mengubah indikator keberhasilan transformasi cloud dari sekadar ukuran teknis menuju dampak bisnis yang lebih nyata, seperti peningkatan produktivitas, pertumbuhan pendapatan, dan efisiensi operasional.

Dalam aspek keamanan, kesenjangan juga terlihat jelas. Sebanyak 68% perusahaan yang tergolong pemimpin menyatakan sangat yakin terhadap sistem keamanan cloud mereka, jauh di atas kelompok lainnya yang hanya 36%.

Laporan ini menegaskan bahwa cloud kini menjadi tulang punggung utama dalam era AI. Tanpa fondasi cloud yang matang, perusahaan berisiko kehilangan momentum untuk mengoptimalkan nilai investasi teknologi dan memperkuat daya saing bisnis di tengah percepatan ekonomi digital.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

PRISM Bidik Peluang Pariwisata, Perluas Konsep Hotel Full-Service di Destinasi Strategis

PRISM, perusahaan induk OYO, memperluas strategi bisnisnya di sektor hospitality Indonesia dengan mendorong pengembangan hotel full-service di sejumlah destinasi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img