Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Andry Satrio Nugroho, menyoroti fenomena pengetatan likuiditas yang dinilai mulai membebani sektor industri nasional. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh kecenderungan perbankan yang lebih memilih menempatkan dana pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menawarkan imbal hasil tinggi dan relatif bebas risiko dibandingkan menyalurkan kredit ke sektor riil.
Andry menjelaskan bahwa pilihan perbankan untuk memarkir dana di SRBI berdampak langsung pada merosotnya permintaan kredit modal kerja maupun kredit investasi. Kondisi ini sekaligus mencerminkan meningkatnya pesimisme dunia usaha di tengah kinerja sektor manufaktur yang masih tertahan. Ia mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di level 50,0, tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga seperti Vietnam dan Singapura.
Selain tantangan di sektor industri, Andry juga menyoroti melemahnya daya beli masyarakat. Menurutnya, konsumsi rumah tangga saat ini menunjukkan tanda-tanda kelelahan, bahkan pada kelompok kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman. Pelemahan juga terlihat pada sektor otomotif dan properti yang selama ini menjadi penopang aktivitas ekonomi domestik.
Untuk mengantisipasi risiko perlambatan yang lebih dalam, Andry mendorong pemerintah menjalankan disiplin pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menyarankan agar belanja barang yang bersifat konsumtif dialihkan ke belanja modal yang lebih produktif sehingga dapat mendorong aktivitas industri, khususnya sektor bahan bangunan dan sektor pendukung lainnya.
Lebih lanjut, Andry merekomendasikan adanya kalibrasi ulang bauran kebijakan moneter agar upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak mengorbankan likuiditas yang dibutuhkan dunia usaha. Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu menyediakan bantalan fiskal bagi kelompok kelas menengah guna menjaga permintaan domestik tetap kuat sekaligus mencegah kelompok tersebut terjerumus ke dalam kategori masyarakat rentan miskin.
Menurut Andry, kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih seimbang menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah berbagai tekanan yang masih membayangi sektor industri dan konsumsi masyarakat.




