Moneter.id – PT Saratoga Investama Sedaya Tbk
(SRTG) mencatatkan rugi bersih senilai Rp6,2 triliun sepanjang tahun 2018. Hal
ini berbalik dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berhasil mencatatkan laba
Rp3,3 triliun.
Perseroan menjelaskan, kerugian yang diderita akibat
turunnya harga saham sejumlah anak usaha yang dimiliki langsung seperti, PT
Adaro Energy Tbk. (ADRO) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).
“Oleh karena kerugian disebabkan oleh penurunan harga
saham, maka kerugian yang diderita SRTG ini belum terealisasi,” tulisnya, Rabu
(27/03).
Selain itu, perseroan membukukan
pendapatan yang terealisasi sebesar lebih dari Rp1,1 triliun sepanjang 2018.
Sebesar Rp900 miliar di antaranya berasal dari pendapatan dividen yang
dikantongi perseroan dari pembayaran dividen anak usaha dan juga keuntungan
dari hasil investasi lainnya.
Kinerja laba SRTG yang kurang memuaskan disebabkan
beragam faktor eksternal, seperti kenaikan suku bunga, melemahnya mata uang dan
harga komoditas yang fluktuatif yang menyebabkan tekanan pada IHSG.
Alhasil, tekanan ini menciptakan dampak buruk untuk
kinerja harga saham dari portofolio investasi. Total aset SRTG sebesar Rp20,1
triliun yang diatribusikan kepada perusahaan investasi yang fokus pada tiga
sektor utama, yaitu sumber daya alam, infrastruktur dan konsumen barang dan jasa.
“Kinerja perusahaan pada tahun 2018 menggambarkan
strategi investasi yang dilakukan oleh Saratoga mampu menghasilkan hasil
investasi yang optimal,” kata Michael Soeryadjaya, Presiden Direktur SRTG.
Secara fundamental, lanjutnya, perusahaan-perusahaan
investasi Saratoga juga tumbuh secara positif dan terus meningkatkan nilai
tambah perusahaan melalui strategi pertumbuhan organik dan non organik.
Lebih jauh, ia menjelaskan, soal kerugian investasi
dari penurunan harga saham, merupakan kondisi normal. Pasalnya, pasar selalu
melalui berbagai tahap volatilitas.
“Sebagai investor jangka panjang, SRTG tetap percaya
diri pada prospek perusahaan investasi dan percaya bahwa harga saham pada
akhirnya akan mampu menyamai fundamental perusahaan,” tutupnya.




