MONETER
–
Emiten pertambangan, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) berencana melakukan pembelian
kembali (buyback) saham sebanyak-banyaknya
Rp 4 triliun.
“Aksi korporasi ini tidak akan melebihi 10% dari modal
yang ditempatkan perseroan atau sampai dengan jumlah maksimal sesuai ketentuan
dalam POJK No. 2/2013,” tulis perseroan di Jakarta, Kamis (6/4/2023).
Tulisnya, pembelian kembali saham akan dilakukan secara
bertahap dalam jangka waktu 18 bulan terhitung setelah persetujuan RUPST
perseroan. Pembelian kembali saham ini wajib diselesaikan paling lama 18 bulan
setelah tanggal RUPST yang menyetujui pembelian kembali saham.
Diketahui, RUPST akan dilakukan pada 11 Mei 2023
mendatang, dan apabila agenda buyback disetujui,
maka buyback saham akan dilakukan
terhitung sejak tanggal 12 Mei 2023.
Periode pembelian kembali saham ADRO adalah 18 bulan
sejak 12 Mei 2023, dan pengumuman ringkasan risalah RUPST pada 15 Mei 2023.
“Jika dana yang dialokasikan untuk buyback telah habis dan/atau jumlah saham yang akan dibeli kembali
terpenuhi, maka ADRO akan melakukan keterbukaan informasi terkait dengan
penghentian pelaksanaan buyback,”
tulisnya.
Informasi, pada tahun 2021, ADRO telah melakukan buyback dalam kondisi pasar yang
berfluktuasi secara signifikan berdasarkan POJK 2/2013. Periode pembelian
kembali saham tersebut dilakukan dalam 4 kali masa perpanjangan dengan periode
yang terakhir adalah 16 September 2022 sampai dengan 16 Desember 2022.
Pada periode tersebut, ADRO telah melakukan pembelian
kembali saham sebesar 1 miliar saham atau 3,13% dari seluruh modal yang
ditempatkan dan disetor penuh dalam ADRO.
Pada tahun 2023, ADRO kembali melakukan pembelian kembali
saham ADRO dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan berdasarkan
POJK 2/2013 sejak 15 Februari 2023 sampai dengan 15 Mei 2023.
Pada periode ini, ADRO telah melakukan pembelian kembali
saham sebesar 20,50 juta saham atau 0,06% dari seluruh modal yang ditempatkan
dan disetor penuh dalam ADRO.
Total jumlah saham yang telah dilakukan pembelian kembali
sampai dengan pengumuman keterbukaan informasi ini disampaikan adalah sebesar
1,02 miliar saham atau 3,19% dari seluruh modal yang ditempatkan dan disetor
penuh dalam ADRO.
Tahun 2022, ADRO mencatat laba bersih sebesar US$ 2,83
miliar atau setara Rp 43 triliun. Capaian tersebut meroket hingga 175%
dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian laba bersih tersebut berasal dari pendapatan
perseroan yang meningkat 103% menjadi US$ 8,10 miliar atau setara sekitar Rp
123 triliun. Adapun pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 3,99
miliar.




