Perekonomian Indonesia pada Triwulan (TW) I 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan atau Year-on-Year (YoY), meningkat dibandingkan TW IV 2025 yang tumbuh 5,39 persen YoY. Namun secara triwulanan atau Quarter-to-Quarter (QtQ), ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar -0,77 persen. Pertumbuhan ini dinilai didorong oleh momentum Ramadan dan Lebaran yang seluruhnya terjadi pada TW I 2026, serta efek basis rendah dari periode sebelumnya.
Meski pertumbuhan ekonomi meningkat, kondisi pasar keuangan nasional masih menghadapi tekanan. Nilai tukar Rupiah terus terdepresiasi dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan domestik yang cukup serius, bukan hanya dipengaruhi faktor global.
Sepanjang TW I 2026, Rupiah mengalami tekanan terhadap hampir seluruh mata uang dunia. Padahal, pada periode tersebut terdapat momentum pelemahan dolar AS yang seharusnya bisa menjadi peluang penguatan Rupiah. INDEF menilai lemahnya Rupiah dipengaruhi kombinasi faktor moneter, fiskal, dan keuangan.
Dari sisi moneter, penurunan BI rate sebesar 125 basis poin pada tahun lalu dinilai memengaruhi ekspektasi imbal hasil investasi di instrumen keuangan seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Meskipun Bank Indonesia mempertahankan BI rate di level 4,75 persen selama TW I 2026, modal asing belum kembali masuk. Bahkan, terjadi arus modal keluar sebesar USD1,7 miliar, berbanding terbalik dengan TW I 2025 yang mencatat aliran modal masuk sebesar USD1,6 miliar.
Sementara itu, dari sisi fiskal, lonjakan defisit anggaran turut memicu kekhawatiran investor. Defisit fiskal tercatat mencapai Rp240,1 triliun pada TW I 2026, melonjak 140,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp99,8 triliun. Rasio defisit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga naik dari 0,41 persen menjadi 0,93 persen. Selain itu, keseimbangan primer yang sebelumnya surplus Rp21,8 triliun kini berubah menjadi defisit Rp95,8 triliun.
Di pasar modal, sentimen negatif juga datang dari ancaman penurunan peringkat Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari kategori emerging market menjadi frontier market. Kondisi ini dinilai memengaruhi kepercayaan investor asing terhadap pasar domestik.
INDEF merekomendasikan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar Rupiah. Pemerintah dan Bank Indonesia diminta memastikan ketersediaan devisa, meningkatkan cadangan devisa sebagai amunisi intervensi pasar, memperkuat aliran Devisa Hasil Ekspor (DHE), serta memperbaiki iklim investasi agar arus modal asing kembali masuk. Selain itu, stabilitas politik dan kelembagaan juga dinilai penting untuk menjaga persepsi positif investor terhadap Indonesia.




