Senin, Juni 15, 2026

Lonjakan Harga BBM Non-Subsidi Jadi Pukulan Tambahan bagi Masyarakat

Must Read

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax sebesar 32 persen dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026 memicu gelombang reaksi negatif di media sosial. Hasil analisis  INDEF, menunjukkan bahwa mayoritas publik merespons kebijakan tersebut dengan nada kecewa dan marah.

Berdasarkan pengolahan 648.723 interaksi yang dihimpun dari platform X, YouTube, dan Threads selama periode 9-11 Juni 2026, ditemukan bahwa 98,12 persen sentimen publik bersifat negatif setelah sentimen netral dikeluarkan dari analisis. Emosi kemarahan mendominasi percakapan dengan persentase mencapai 85,37 persen.

Menurut  Wahyu Tri Utomo, Data Scientist Continuum, kemarahan publik dipicu oleh anggapan  pemerintah tidak konsisten dalam menyampaikan narasi terkait harga BBM. Kondisi ekonomi yang dinilai sedang menghadapi tekanan akibat pelemahan nilai tukar Rupiah, penurunan IHSG, serta kenaikan harga BBM non-subsidi semakin memperburuk persepsi masyarakat terhadap kebijakan tersebut.

Menariknya, fokus utama perbincangan warganet bukan hanya pada Pertamax, melainkan pada nasib Pertalite yang menyumbang 50,98 persen topik diskusi. Banyak netizen mengkhawatirkan potensi kelangkaan stok Pertalite akibat peralihan pengguna Pertamax ke BBM yang lebih murah. Sebagian juga mempertanyakan kemungkinan Pertalite akan mengalami nasib serupa dengan Premium yang sebelumnya dihapus dari pasar.

Analisis tersebut juga menemukan kritik yang diarahkan kepada Pertamina serta munculnya kembali pembahasan mengenai sikap akun @gerindra saat masih berada di posisi oposisi. Selain itu, publik ramai memperingatkan potensi efek domino kenaikan harga BBM terhadap rantai pasok dan harga kebutuhan pokok yang dinilai akan berdampak pada seluruh lapisan masyarakat.

Wahyu menyimpulkan  meskipun kebijakan ini hanya menyasar BBM non-subsidi, dampaknya tetap dirasakan secara luas. Dalam berbagai percakapan digital, masyarakat menilai lonjakan biaya energi berpotensi meningkatkan biaya logistik, menekan pelaku UMKM, serta mendorong kenaikan harga pangan.

“Gejolak yang terlihat di media sosial saat ini merupakan cerminan nyata dari kondisi sosial yang berkembang di masyarakat. Kenaikan harga BBM dipandang bukan hanya sebagai persoalan energi, tetapi juga berkaitan dengan daya beli dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi secara keseluruhan,” ujar Wahyu dalam hasil analisisnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Katalis Berbasis Limbah Kulit Kemiri Jadi Terobosan Baru Kurangi Emisi Karbon

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan teknologi hijau untuk mendukung target Net Zero Emission...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img