PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) menunjukkan hasil positif setelah menjalani transformasi bisnis ke sektor angkutan laut. Emiten yang sebelumnya melakukan perubahan fokus usaha tersebut berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan dan kembali mencetak laba pada kuartal pertama 2026, didorong oleh optimalisasi armada dan efisiensi operasional.
Presiden Direktur PT Tirta Mahakam Resources Tbk, Tham Arvin Setyanto, mengatakan transformasi bisnis yang dilakukan sepanjang 2025 menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usaha perseroan. Selain menyelesaikan seluruh perizinan yang dibutuhkan, TIRT juga berhasil memperoleh sejumlah kontrak penyewaan kapal sebagai sumber pendapatan awal.
“Transformasi menuju bisnis angkutan laut merupakan langkah penting dalam perjalanan TIRT. Pada tahun 2025, kami telah menyelesaikan berbagai perizinan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan usaha angkutan laut, serta memperoleh sejumlah kontrak penyewaan kapal dengan pelanggan,” ujar Tham Arvin Setyanto.
Perseroan kini mengandalkan model bisnis business-to-business (B2B) dengan captive market sebagai penopang utama pendapatan. Strategi tersebut juga diimbangi dengan pembukaan peluang kerja sama bersama mitra strategis untuk memperluas bisnis tanpa mengabaikan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Di tengah tingginya volatilitas harga bahan bakar minyak yang dipicu kondisi geopolitik global, TIRT memilih memperkuat efisiensi sebagai strategi utama. Perseroan mengoptimalkan pemanfaatan armada, memastikan seluruh kapal dalam kondisi laik laut, serta menerapkan pengendalian biaya operasional secara ketat untuk menjaga profitabilitas.
“Saat ini industri angkutan laut sedang menghadapi tantangan utama berupa fluktuasi harga bahan bakar minyak yang dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global. Untuk menghadapi kondisi tersebut, kami terus melakukan optimalisasi pemanfaatan armada, memastikan seluruh kapal dalam kondisi laik laut, serta menerapkan pengendalian biaya operasional secara disiplin dan efisien. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan kegiatan usaha pelayaran dapat berjalan optimal sehingga dapat mendukung perbaikan posisi keuangan Perseroan secara berkelanjutan. Selain itu, kami juga akan terus membangun fondasi tata kelola yang kuat agar dapat menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan,” katanya.
Strategi tersebut mulai memberikan dampak terhadap kinerja keuangan. Pada tahun buku 2025, TIRT membukukan pendapatan sebesar Rp13,66 miliar dari pengoperasian 20 armada kapal. Tren positif itu berlanjut pada kuartal I-2026 ketika pendapatan melonjak menjadi Rp26,6 miliar, disertai laba bersih sebesar Rp7,5 miliar.
Sejalan dengan perbaikan kinerja tersebut, perseroan juga telah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 24 Juni 2026. Seluruh agenda rapat, termasuk pengesahan laporan tahunan, laporan keuangan yang telah diaudit, laporan pengawasan dewan komisaris, serta laporan keberlanjutan untuk tahun buku 2025, memperoleh persetujuan pemegang saham.
Manajemen menegaskan akan melanjutkan penguatan bisnis pelayaran secara bertahap melalui pengelolaan operasional yang lebih efisien, penerapan prinsip kehati-hatian, serta penguatan tata kelola perusahaan. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkokoh fundamental keuangan perseroan sekaligus menciptakan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.




