Tugu Hotels & Restaurants menghadirkan pengalaman kuliner bertajuk “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” (My Forefather, the Great Seafarer) yang mengajak para tamu menyelami kembali sejarah panjang perjalanan kuliner Indonesia melalui jalur sungai dan laut. Program ini menjadi penghormatan terhadap peradaban maritim Nusantara yang telah membentuk identitas budaya dan cita rasa Indonesia selama berabad-abad.
Terinspirasi dari sejarah perjalanan leluhur Nusantara, pengalaman bersantap ini mengingatkan bahwa Indonesia tidak pernah dibangun oleh satu pulau, melainkan oleh pergerakan manusia yang menyeberangi sungai, menyusuri pesisir, dan mengarungi lautan. Jauh sebelum jalan raya dibangun, sungai-sungai besar seperti Musi, Kapuas, Mahakam, dan Barito telah menjadi urat nadi perdagangan, penyebaran budaya, hingga lahirnya berbagai tradisi kuliner di Nusantara.
Bagi masyarakat Indonesia masa lampau, sungai dan laut bukanlah pemisah, melainkan jalur kehidupan yang mempertemukan manusia, rempah-rempah, hasil bumi, hingga berbagai teknik memasak. Dari perjalanan itulah lahir keberagaman kuliner Indonesia yang hingga kini menjadi salah satu kekayaan budaya terbesar di dunia.
Semangat tersebut diwujudkan Tugu Hotels & Restaurants melalui penyajian hidangan di atas rakit bambu, simbol sederhana yang dahulu menjadi sarana utama masyarakat mengangkut hasil bumi, rempah-rempah, hingga hasil tangkapan ikan dari pedalaman menuju pelabuhan. Dari pelabuhan-pelabuhan itulah berbagai komoditas kemudian berlayar ke berbagai wilayah Nusantara bahkan mancanegara.
Setiap hidangan dalam pengalaman bersantap ini tidak sekadar menawarkan cita rasa, tetapi juga menghadirkan kisah perjalanan budaya Indonesia. Sajian Molo Weti Nakeng dari Flores, misalnya, terinspirasi dari tradisi menangkap ikan yang diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari ritual penghormatan kepada laut serta leluhur.
Dari Jawa Timur, hadir Bebek Ireng Ungkep yang mencerminkan resep warisan keluarga yang dimatangkan oleh waktu, sementara Kawisari Plantation memperkenalkan kisah perjalanan kopi dari lereng Gunung Kelud menuju berbagai penjuru Indonesia.
Perjalanan kuliner berlanjut ke Blitar melalui Mangasati, hidangan yang dikenal sebagai salah satu makanan favorit Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ketika pulang ke kota kelahirannya. Dari Bali, Lawar Embung merepresentasikan kesederhanaan kuliner desa yang kaya akan kelapa, rempah, dan hasil bumi lokal. Sementara dari Lombok, Berengkes Laut Pantai Sire menggambarkan eratnya hubungan masyarakat pesisir dengan laut melalui olahan ikan yang dimasak perlahan menggunakan daun pisang dan bumbu khas Nusantara.
Sebagai penutup perjalanan, Jakarta sebagai kota pelabuhan yang sejak lama menjadi titik temu berbagai budaya menghadirkan Nasi Kecombrang, sebuah sajian yang merefleksikan keberagaman cita rasa hasil pertemuan berbagai etnis dan tradisi.
Melalui rangkaian hidangan tersebut, Tugu Hotels & Restaurants ingin menunjukkan bahwa setiap makanan khas daerah bukan hanya sekadar resep, melainkan bagian dari peta besar sejarah Indonesia yang terbentuk oleh perjalanan manusia, perdagangan, dan budaya lintas pulau.
Konsep ini juga sejalan dengan visi Tugu dalam menjaga warisan budaya Indonesia. Berbagai koleksi candi, manuskrip, tekstil, karya seni, hingga bangunan bersejarah yang dirawat Tugu bukan sekadar menjadi pajangan, melainkan media untuk terus menghidupkan cerita masa lalu. Begitu pula dengan kuliner, yang diyakini hanya akan tetap lestari apabila terus dimasak, dibagikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.




