Moneter – Kementerian ESDM
menyebutkan interkoneksi pipa transmisi gas bumi Pulau Jawa dan Pulau Sumatera
akan meningkatkan pertumbuhan industri dan ekonomi nasional. “Ini akan
sangat membantu pertumbuhan industri di Sumatera dan Jawa,” kata Direktur
Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariaji di Jakarta, Rabu (8/9/2021).
Katanya, saat ini pemerintah tengah mempercepat pembangunan dua
proyek strategis pipa transmisi gas bumi, yakni ruas Cirebon-Semarang di Pulau
Jawa sepanjang 255 kilometer dan Dumai-Sei Mangkei di Pulau Sumatera sepanjang
386 kilometer, sehingga akan semakin memperpanjang interkoneksi pipa gas kedua
pulau tersebut.
Pembangunan proyek pipa transmisi gas
Cirebon-Semarang akan menggunakan dana anggaran pendapatan dan belanja negara
(APBN) yang dibagi menjadi dua tahap, yakni Semarang-Batang pada 2022 dan
Batang-Cirebon pada 2023.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas
Bumi (BPH Migas) telah mengusulkan nilai investasi pembangunan pipa transmisi
gas bumi ruas Semarang-Batang sebesar Rp1 triliun dalam rencana anggaran tahun
depan.
Selanjutnya, BPH Migas membuka opsi
pendanaan untuk proyek pipa transmisi gas ruas Batang-Cirebon melalui APBN atau
kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).
Estimasi anggaran untuk proyek tahap
kedua tersebut mencapai Rp1,89 triliun.
Adapun proyek pembangunan pipa
transmisi ruas Dumai-Sei Mangkei telah dilakukan sejak 2014 dan akan
disesuaikan kembali jelang penghentian pasokan gas dari Blok Corridor ke
Singapura pada 2023 mendatang.
Pembangunan pipa transmisi di Pulau
Sumatera tersebut guna memenuhi kebutuhan dalam negeri mulai dari sektor
industri maupun pembangkit listrik, sehingga gas dengan kapasitas 300 juta
standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dari Blok Corridor tidak akan lagi
diekspor ke Singapura maupun negara lain.
“Di Jawa, akan dibangun pipa
Cirebon-Semarang (Cisem) yang diharapkan dalam beberapa tahun ke depan bisa
dibangun. Pemerintah juga mengharapkan ada pembangunan pipa Dumai ke Sei
Mangkei, sehingga jaringan dari Sumatera Utara sampai ke Jawa Timur bisa
tersambung,” ucap Tutuka.
Kementerian ESDM mencatat realisasi
kontribusi gas bumi terhadap bauran energi nasional tahun lalu sebesar 19,36
persen dan ditargetkan akan meningkat menjadi 22 persen pada 2025 mendatang.
Saat ini, potensi cadangan gas
nasional mencapai 62,4 triliun kaki kubik (TCF) dengan cadangan terbukti 43,6
TCF yang dapat diproduksi selama 20 tahun ke depan.
Dari total potensi gas tersebut
sebanyak 85 persen berada di Indonesia timur, sehingga pembangunan
infrastruktur menjadi kunci utama dalam memaksimalkan potensi gas bumi untuk
menopang transisi energi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.




