Diskusi Publik INDEF bertajuk “Tanggapan atas Pidato Presiden dan Pembacaan Nota Keuangan RAPBN 2027” menyoroti sejumlah tantangan yang masih membayangi perekonomian Indonesia. Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen yang dicanangkan pemerintah dinilai perlu dibarengi dengan kebijakan yang lebih kuat agar mampu menciptakan pertumbuhan berkualitas, inklusif, dan sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi domestik.
Kepala Center of Food, Energy and Sustainability Development INDEF, Abra Talattov, menilai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas hanya dapat dicapai jika pemerintah mengarahkan kebijakan pada sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi. Menurutnya, perlambatan ekspor masih berkelindan dengan rendahnya pertumbuhan sektor manufaktur, sementara industri nasional masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku dan barang modal.
Abra menegaskan, industrialisasi menjadi salah satu pekerjaan rumah penting pemerintah ke depan. Penguatan industri domestik dinilai dapat mendorong substitusi barang impor, meningkatkan kapasitas produksi nasional, sekaligus memperkuat kinerja ekspor. Dengan demikian, ketergantungan terhadap bahan baku maupun bahan penolong dari luar negeri dapat dikurangi secara bertahap.
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5,29 persen, Abra juga menyoroti sektor pertanian yang dinilai masih belum digarap secara optimal. Pemerintah perlu kembali memperkuat sektor tersebut agar mampu menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain industrialisasi dan pertanian, pemerintah juga diingatkan untuk mewaspadai tekanan inflasi. Abra mencermati inflasi volatile food sempat menyentuh sekitar 5 persen pada paruh pertama tahun ini. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih karena tantangan kemarau akibat El Nino diperkirakan akan muncul pada paruh kedua tahun ini.




